Februari 19, 2016

Kecelakaan di Lintas Barat Aceh Akibat Hewan Ternak

Hari pertama dan kedua terlewatkan begitu indah, liburan saya di Aceh Barat sangatlah mengesankan. Begitupun di hari ketiga, yang seharusnya menjadi hari terakhir saya liburan di Aceh Barat, tepatnya Kota Meulaboh karena keesokan harinya saya akan kembali ke Banda Aceh, sudah saya rencanakan sebelum.

Namun semua rencana berubah. Di hari ketiga yang merupakan hari terakhir saya liburan di Aceh Barat, berubah menjadi hari yang terlalu sayang untuk dilupakan, terlalu pahit untuk diingat, dan keterlaluan untuk dikenang. Saya mengalami kecelakaan. Sebenarnya bukan hanya saya saja, ada satu orang teman yang ikut menjadi korban kecelakaan.



Begini cerita....

Sepulang dari Pasi Saka, Sampoiniet, Aceh Jaya. Pasi Saka adalah pantai yang terletak di kilometer 117 lintas barat Aceh. Dari Meulaboh, perjalanan di tempuh kurang lebih dua jam, sampai di desa Jeumphuk, saya dan teman lainnya memarkirkan sepeda motor kami di depan rumah kepala desa dan juga meminta izin sekaligus menitipkan motor kami di sana.

Singkat cerita, setelah puas mengunjungi Pasi Saka, hari sudah mulai gelap, jam 18:00 WIB kami melajukan sepeda motor kami. Ada dua sepeda motor, saya dan teman saya, yang mengemudikan adalah teman saya, dan yang satunya lagi kakak-beradik. Sepeda motor kami lajukan lumayan kencang. 80 km/jam, wajar kencang, karena jalanan tergolong sepi dan kondisi jalan juga sangat bagus.

Namun nahas, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Ketika kami melewati jalan di daerah Panga, Aceh Jaya. Akibat terlalu kencang dan jalanan tidak disertai lampu jalan, kamipun menabrak lembu, teman saya sudah berusaha untuk mengerem supaya tabrakan bisa dihindarkan, namun terlambat. Kamipun jatuh ke sisi kiri jalan. Teman saya jatuh terlebih dahulu, kemudian sayapun ikut jatuh dan sempat berguling di atas rerumputan.

Sayapun langsung mencoba berdiri, saya melihat teman saya berada di pinggir jalan dalam keadaan terlungkup, sayapun langsung berlari ke arahnya yang jaraknya sekitar lima meter, pada saat berlari saya merasakan kaki kiri saya sakit sekali, saya berlari sambil terpincang-pincang. Sepertinya teman saya tidak sadarkan diri. Sayapun langsung membalikkan badannya, dan melihat ada darah yang mengalir dari pelipis mata kanannya. Teman saya pingsan.

Saya tidak tahu harus berbuat apa, dalam keadaan panik, saya hanya dapat memanggil teman saya yang pingsan ini agar segara sadar. Saya lepaskan helmnya.

Teman saya yang menggunakan sepeda motor yang satunya lagi, langsung berhenti membantu kami dan mereka langsung meminta tolong kepada siapa saja yang melintas di jalan tersebut. Barulah saya sadar untuk mencari pertolongan. Kami bertiga berteriak supaya ada orang yang mau menolong kami. Beberapa pengguna jalan berhenti, lantas tidak langsung menolong kami. Saya heran, apa yang mereka pikirkan, mengapa mereka tidak langsung menolong.

Akhirnya sebuah mobil warna putih melintas dan langsung berhenti. Pemilik mobil itulah yang akhirnya bersedia untuk menolong kami. Bersama sejumlah orang yang melintas tadi, teman saya yang masih belum sadarkan diri diangkat bersama-sama untuk dibawa ke puskesmas terdekat, sayapun turut bersamanya. Selamat di dalam ambulans, kami saling menguatkan satu sama lain, bahwa kita semua akan baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Alhamdulillah, puskesmas tidak terlalu jauh. Para petugaspun langsung mengambil tindakan kepada teman saya. Dan syukur, akhirnya teman saya telah sadar kembali.
Setelah proses tindakan perawatan pertama dan administrasi selesai, rupanya teman saya harus segera dirujuk ke Rumah Sakit Cut Nyak Dhien Meulaboh. Saya, beserta teman yang lainnya langsung menaiki mobil ambulans, teman saya yang lukanya lumayan parah ini dibaringkan diatas tandu di dalam ambulans, saya dan dua teman lainnya duduk di samping ikut pergi ke Rumah Sakit Cut Nyak Dhien Meulaboh.

Akhirnya kami sampai di rumah sakit setelah menempuh perjalana selama satu jam setengah dengan mobil ambulans yang sirinenya riuh rendah. Teman saya dikeluarkan dan disambut oleh para petugas rumah sakit, iapun langsung dilarikan ke ruang penanganan. Sementara saya dan teman lainnya menunggu di luar. Dan tak lama kemudian, keluarga teman saya pun datang ke rumah sakit setelah sebelumnya kami kabari bahwa kami telah mengalami kecelakaan.

Setelah beberapa lama berada di rumah sakit, saya dan teman lainnya pamit dengan keluarga teman kami yang mengalami luka yang lumayan berat. Teman saya harus menjalani rawat inap selama enam hari dan selebihnya mejalani rawat jalan, sedangkan saya diperbolehkan pulang karena hanya mengalami luka terkilir pada kaki sebelah kiri. Sejak tanggal kejadian yaitu 08 Februari 2016, luka saya dan teman sayapun berangsur-angsur pulih, mungkin butuh 30 - 45 hari supaya bisa sembuh total.

Sampai di rumah teman saya. Saya dan teman-teman saya yang merupakan host saya selama berada di Kota Meulaboh kembali membahas kenapa hal ini bisa terjadi. Menurut saya, ada beberapa hal yang menyebabkan kecelakaan ini, yaitu:
  1. Akibat lampu jalanan yang tidak tersedia di sepanjang jalan lintas Banda Aceh - Meulaboh
  2. Akibat hewan ternak masyarakat di sepanjang jalan lintas Banda Aceh - Meulaboh
  3. Akibat kendaraan yang melaju terlalu kencang, tapi kalau tidak ada hewan ternak pasti kecelakaan tidak akan terjadi
  4. Akibat kemalaman di jalan, semalam apapun kalau tidak ada hewan ternak di jalan pasti kecelakaan tidak terjadi
  5. Akibat tidak berhenti sejenak ketika maghrib
  6. dll
Malam tersebut adalah malam terakhir saya di Kota Meulaboh, sebelumnya sempat terpikir untuk menambah waktu inap saya sampai lumayan sembuh. Namun setelah dipikir-pikir, esok siangnya saya langsung kembali ke Banda Aceh dengan menggunakan mobil, motor yang seharusnya saya kemudikan sendiri untuk kembali ke Banda Aceh turut diangkut ke dalam mobil. Tiba di Banda Aceh pukul 19:50 WIB dan pukul 21:00 WIB saya dijemput mobil kembali untuk berangkat ke kampung halaman saya - Kota Langsa dan tiba di Langsa keesokan harinya. Sungguh liburan yang tak terlupakan. Liburan ke Kota Meulaboh yang tak tanggung-tanggung, berada di mobil ambulans bersama teman-teman dan juga ke rumah sakit Kota Meulaboh langsung ke ruang IGD.

Saya sangat berterima kasih kepada host (tuan rumah) saya selama di Meulaboh. Mereka yang sangat baik menjamu saya sebagai tamu mereka, menurut saya, saya tidak diperlakukan sebagai tamu, namun sebagai saudara sendiri. Saya begitu terharu kalau mengingat jasa-jasa mereka saat pertama saya datang dan saat saya berangkat ke Banda Aceh, terutama terima kasih yang tak terhingga kepada ibu host saya.

***
Sebenarnya sudah sangat banyak kasus kecelakaan yang terjadi akibat hewan ternak ini, bahkan ada yang menelan korban jiwa, bahkan kejadian terparah terjadi pada pagi dan siang hari. Namun sayangnya, masyarakat tidak perduli. Para pemilik ternak seakan acuh tak acuh, padahal ini adalah ternak milik mereka. Para pemerintah juga terkesan membiarkan hal ini dengan tidak memasang lampu jalanan dan juga tidak menerapkan sangsi yang tegas bagi para pemilik ternak yang melepaskan ternak mereka secara bebas.

Namun, dari semua kejadian ini, ada baiknya kita ambil pelajaran dan hikmah untuk selalu berhati-hati di manapun dan kapanpun. Kami bersyukur kepada Allah, karena sampai hari ini kami masih bisa bernafas, masih bisa beribadah dan masih bisa menikmati hidup bersama orang-orang yang kami sayangi dan cintai. Kepada teman-teman yang lain, harap selalu berhati-hati dalam berpergian, selalu utamakan keselamatan. Ingatlah keluarga, saudara-saudara, dan teman anda di rumah.

Februari 13, 2016

Danau Genang-Gedong (yang kini) Tinggal Kenangan

Jarum jam tangan saya terus berputar, menunjukkan pukul 12:35 WIB, sudah waktunya makan siang.
Sebelum berangkat, kami sudah membeli makan siang untuk dimakan bersama dengan teman lainnya. Teman-teman sayapun membawa saya ke suatu tempat yang belum pernah saya datangi sebelumnya. Sudah pasti, ini adalah kali pertama saya berkunjung ke Aceh Barat, jadilah teman-teman saya ini sebagai guide pribadi saya, hehehehe. 

Setelah berziarah ke makam Teuku Umar Johan Pahlawan, kami kembali ke arah jalan pulang, kemudian motor kamipun berbelok ke lorong yang berada di sisi kanan seberang jalan.
Sepeda motor kami lajukan beberapa puluh meter ke dalam kawasan danau, sampailah kami di sana. 

Danau Genang-Gedong, berada di Gampong Putim, Kecamatan Kaway XVI, Kabupaten Aceh Barat, 20 km dari Kota Meulaboh menuju Banda Aceh melewati Geumpang. Suasana tentram, damai dan teduh sekali, itulah yang saya rasakan. Sepi, padahal hari itu adalah hari Minggu. Kamipun memarkirkan sepeda motor kami di bawah pohon di antara bangunan kayu yang terlihat kotor dan warung yang berisikan beberapa pemuda yang sedang menyuruput kopi mereka yang tampak sedang asik mengobrol.
Piyoh.....! Kata salah satu dari mereka
Jeut.... Kami menjawab.



Perut mulai keroncongan, kamipun mengambil bekal makanan kami, kami beranjak ke atas bukit, di sanalah kami menikmati makan siang kami, sambil menikmati hamparan danau alami yang meliputi tiga desa ini. Kami begitu semangat menyantap makanan, bagaimana tidak, bebukitan yang diselimuti rumput hijau, beberapa pepohonan melambai dihembus angin lembut dan permukaan danau yang tenang membuat kami sangat menikmati makan siang walaupun dengan menu yang sederhana.
Santai sejenak sembari mengabadikan momen dengan kamera, titik airpun jatuh satu persatu, sepertinya akan hujan. Dengan tergesa-gesa kami turun ke bawah bukit, menyelamatkan diri masing-masing dari air langit. Hujan, kamipun berteduh di bangunan kayu tua dekat dengan tempat di mana kami memarkirkan sepeda motor kami sebelumnya.





Hujan semakin lebat, mengaburkan pandangan kami ke arah ujung danau, beberapa kerbau asik bermandikan hujan dan beberapa diantara mereka ada yang memilih untuk berendam ke dalam danau yang air pasti hangat sekali.





Teman saya menceritakan, bahwa dulunya tempat wisata ini sangatlah sibuk dan ramai, banyak orang yang piknik, memancing, bermain boat bebek di danau ini, namun sekarang tidak lagi. Lantas saya bertanya, apa yang terjadi. Teman saya menjawab hal ini karena terdengar isu bahwa ada ikan yang ukurannya besar sekali yang mendiami danau ini, sehingga membuat para pengunjung menjadi takut. Sungguh sangat disayangkan, beberapa fasilitas seperti mushalla, toilet, dan juga kafe tampak tidak terawat, padahal jika tempat wisata ini terus dihidupkan dan dikelola, maka tempat ini akan semakin terkenal, semakin maju dan taraf ekonomi masyarakat pasti akan berkembang dan membuat para masyarakat akan memiliki penghidupan yang lebih baik.

Sungguh malangnya kau Geunang-Gedong meninggalkan kenangan indah bagi mereka yang telah datang.

Februari 12, 2016

Makam Teuku Umar, Pantai Ujong Karang,dan Pantai Suak Ujong Kalak

Hari ke dua berada di Kota Meulaboh, malam sebelumnya saya dan Kak Zaky sudah janjian untuk gowes pagi-pagi buta, pukul 06:15 WIB kami berdua menyusuri Kota Meulaboh. Seperti kota-kota lainnya, Kota Meulaboh, bangunannya tertata rapi, bersih, banyak pertokoan, perkantoran, hotel dan sarana lainnya. Tujuan kami adalah melihat sunrise di tepi pelabuhan, kamipun menyusuri jalanan yang berada di tepi laut, nama tempatnya adalah Ujong Karang, tempat ini persis ditepi laut, banyak diletakkan pemecah ombak yang terbuat dari beton, tak terbayangkan ketika tsunami terjadi pada tahun 2004 silam, bagaimana terjangan ombak yang meluluh lantakkan segala sesuatu yang ada di tempat ini. Selama menyusuri jalanan sekitar pantai terlihat banyak kapal nelayan yang berangkat ke laut, terlihat juga sebuah pabrik batu bara yang berada di ujung seberang lautan, cerobongnya mengeluarkan asap.



Setelah menyusuri Ujong Karang kamipun melanjutkan rute kami ke sebuah monumen di mana tempat gugurnya Teuku Umar ketika berperang melawan Kaphee  Belanda, sebuah monumen yang berbentuk Kupiah Meukutop topi khas adat Aceh, monumen ini terletak di kawasan pantai Suak Ujong Kalak. Monumen ini berada kurang lebih 20 – 25 meter dari bibir pantai, sayapun coba merasakan dan meresapi kejadian ketika Pahlawan Teuku Umar ditembak oleh penjajah Belanda, tragis sekali rasanya jika berada di tempat kejadian tersebut persisnya pada tanggal 11 Februari 1899 menyaksikan perlawanan Teuku Umar bersama pejuang lainnya melawan Penjajah Belanda di mana Teuku Umar bersimbah darah ditembaki Kaphee Belanda tepat di dadanya dengan peluru emas.
Waktu menunjukkan pukul 09:00 WIB, waktu kembali ke rumah untuk breakfast dan bersih-bersih setelah ngos-ngosan dan berkeringat selama gowes mengelilingi Kota Melaboh. 
 

Breakfast selesai, bersih-bersih juga selesai. Saya dan Kak Zaky pergi mengunjungi Makam Teuku Umar yang termasuk situs wisata yang wajib dikunjungi ketika berada di Aceh Barat, kali ini ditemani Kak Evi, horeeeeeeeeeeeeeeee, makin rame. Tidak sulit untuk menuju ke  tempat ini. Terletak di pinggir jalan raya Meulaboh sekitar 40 km dari Kota Meulaboh, Desa Mugou Rayeuk, Kecamatan Panton Reu, ketika menyusuri jalan ini, akan terlihat gapura di sebelah kiri, kemudian masuk ke dalam kawasan hutan berbukit, sekarang jalannya sudah diaspal, jadi sangat mudah untuk dilewati. Kemudian berjumpa gapura lagi, untuk kendaraan roda empat disediakan tempat parkir, sedangkan kendaraan roda dua, diperbolehkan untuk parkir di dalam, kemudian berjalan kaki menaiki dan menuruni tangga sejauh 100 meter, ada juga jalan yang tidak bertangga, tinggal pilih sesuai selera kita.


 

Tiba di komplek pemakaman, suasana sangat teduh dan senyap sekali. Tenang dan nyaman rasanya ketika berada di tempat ini. Tempatnya juga bersih. Walaupun tempat ini bersih dari sampah, akan tetapi sesekali kita akan dibuat tidak nyaman akibat gigitan nyamuk, hal ini dikarenakan letak makam ini berada di tengah-tengah hutan, tepatnya di hutan Glee Mugou. Jadi jangan heran ya... 

Satu cerita yang perlu kita ketahui seputar Makam Teuku Umar ini adalah ketika jenazah Teuku Umar hendak dimakamkan, pasukan Teuku Umar membawanya dan mengelabui dengan membuat enam petilasan makam dan terakhir di tempat Teuku Umar dimakamkan sekarang, hal ini dilakukan agar jenazah Teuku Umar tak diambil oleh Penjajah Belanda.

Ceritaku di ACEH BARAT

Bosaaaaaaaaaaaaaan di rumah aja, sedangkan waktu untuk liburan itu banyak banget.... Ke mana ya? Tapi sendirian, ga enak kalo sendirian, ga seru. Akhirnya FB-an, rupanya ada yang posting ngajak liburan. Yes!!!!!!!!!!!!! Petualangan kali ini adalah Aceh Barat, tepatnya di Kota Meulaboh. Teman asventure saya, di mana sebelumnya kami sudah ke Air Terjuan Kuta Malaka, kemudian ke Langee Hidden Beach beserta Ie Rah-nya, waktu itu mereka (Kak Evi, Kak Miftah dan Kak Zaky) yang dari Meulaboh ke Banda Aceh. Kali in saya yang dari Banda Aceh ke Meulaboh. Oke FIX! 

Hari Sabtu, tanggal 06 Februari 2016 saya berangkat SEORANG DIRI ke Meulaboh, saya berangkat pukul 08:23 WIB dengan sepeda motor saya yang beberapa hari sebelumnya sudah saya service supaya selama perjalanan sepeda motor saya baik-baik saja. 

Selama di perjalanan, lumayan ramai orang yang berpergian ke arah Aceh Jaya atau Aceh Barat, laki, perempuan, pasangan, kalo yang perempuan ga ada yang nyetir sendirian, Cuma saya satu-satunya perempuan yang nyetir sendirian dari Banda Aceh ke arah Barat Aceh, resiko “Jones” pemirsa-pemirsa, namun ga masalah bagi saya, the journey must go on! Memasuki gunung paro, tiba-tiba ada pesepeda motor laki-laki sendirian yang mendekati saya, alhamdulillah niatnya baik kok, dia temani saya karena saya sendirian, alhamdulillah ada yang kawal selama perjalanan sampai ke puncak  geurute, rejeki anak Shalih-ah. 

Di puncak geurute, kamipun bersistirahat, rupanya sudah ada beberapa teman dari laki-laki yang kawal saya tadi, sayapun ngobrol sedikit dengan mereka, kemudian kamipun melanjutkan perjalanan. Menuruni puncak geurute, saya dan merekapun berpisah, tak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada mereka. Thank You ya bradeeeeeeeeeeeeeeeers!!!!

Badan terasa pegal banget, setiap ada SPBU saya berhenti, selalu isi full tank, takut ga jumpa SPBU selama perjalanan ke ke depan, hahahaha. Maklum baru pertama kali ke Aceh Barat. Sepeda motor saya lajukan dengan kecepatan 80 km – 100 km / jam. Sesekali pelan, banyak hewan ternak di jalanan, ada yang santai di tengah jalan, ada yang rombongan, memang pemandangan ini sudah sangat biasa terjadi di sepanjang jalan menuju Aceh Barat, kecelakaanpun tak terelakkan bagi mereka yang kurang berhati-hati, bahkan ada yang menelan koban jiwa loh, tapi tetap sama saja, hewan ternak masih saja berkeliaran di jalanan. Yang salah bukan hewannya, tapi si pemilik hewan, tolong dong pak, yang punya lembu, sapi, kerbau dijaga, perurabe leumo kon di jalan, di lapangan yang jai naleung neuba keudeh. Tuhkan, jadi emosian saya!

Medan jalan menuju Aceh Barat sangatlah mengasikkan, pemandangannya  indah, dikarenakan letak geografis wilayah ini berada  di pesisir pantai ataupun laut, jalanan aspalnyapun lumayan mulus, sepi juga. Jadi bisa bawa kencang asalkan harus hati-hati.

Pukul 13:35 WIB, saya sampai di Kota Meulaboh, saya berhenti di pusat kota, apalagi kalau bukan masjid agung kota meulaboh, dan saya langsung di jemput oleh Kak Zaki, teman sekaligus host saya yang super baik hati selama di kota meulaboh.

Sayangnya, waktu itu cuaca di Kota Meulaboh tidak mendukung, hujan sepanjang waktu, hingga malam hari, tidak masalah bagi saya, sayapun memanfaatkan waktu di rumah sambil beristirahat dan mengobrol bersama teman saya, kamipun ngobrol panjang hingga pukul 23:00 WIB, sudah saatnya tidur, karena keesokan harinya saya dan Kak Zaky akan gowes keliling Kota Meulaboh.


Puncak Geurute Aceh Jaya

Awal tahun 2016 ini begitu banyak cerita yang saya lalui. Akhir 2015 saya dapat cuti dari bos tempat saya bekerja, lamanya tak tanggung-tanggung, satu bulan guys, lama banget tu kan. Saya pakai waktu cuti tersebut untuk pulang ke kampung halaman. Tanggal 03 Januari 2016 saya berangkat ke Langsa, selama di Langsa, I spent my days bersama keluarga saya. Beda rasanya, biasanya setiap pulang kampung saya selalu excited untuk bertemu teman kuliah, KPM (KKN) atau SMA dan juga jalan-jalan ke sana sini serta berwisata kuliner di Langsa yang tiada habis-habisnya. Akhirnya saya hanya berkinjung ke Kuala Langsa dan juga bersetemu dengan teman SMA di har-hari terakir saya di Langsa.

Tanggal 26 Januari 2016 saya berangkat kembali ke Banda Aceh seorang diri, bukan untuk kembali bekerja di tempat kerja saya yang dahulu, saya memutuskan untk resign dan mencari pekerjaan di tempat yang lain. Sembari menunggu panggilan interview dan juga mengirimkan surat lamaran pekerjaan, hari-hari di Banda Aceh saya gunukan untuk relax dan santai (apa bedanya antara relax dan santai?)

Karena sudah bosan terus-terusan di rumah, pada tanggal 30 Januari 2016, tepatnya hari Sabtu, saya pergi ke Gunung Geurute, Aceh Jaya sendirian dengan menggunakan sepeda motor saya. Sebenarnya perjalanan ini sudah saya rencanakan sebelumnya, lagipula selagi ada waktu kenapa tidak.

Pukul 09.00 WIB pagi, saya pacu kendaraan saya menuju ke Geurute, perjalanan menghabiskan waktu selama 1 ½ jam. Selama diperjalanan kita akan melewati dua buah pegunungan, yaitu gunung paro dan gunung kulu, kita disuguhi dengan pemandangan alam yang hijau, sesekali ada sekumpulan monyet liar yang sedang mencari makanan di pinggir jalan. Mengendarai kendaraan selama di gunung ini harus ekstra hati-hati dan fokus, karena jalannya meliuk-liuk dan di bawahnya ada jurang, salah-salah kita bisa masuk ke salah satu tempat yaitu surga, neraka ataupun rumah sakit. hahahahaha

Sampai di Geurute saya langsung singgah di warung siamang, sayangnya siamangnya sudah pulang ke rumah sendiri, jadi kami tidak sempat bertegur sapa. Rupanya, siamang punya jadwalnya sendiri kalau ke warung tersebut, yaitu pukul 9-10 pagi, kemudian siang hari pukul 2-3 dan sorenya pukul 3-4. Jadi kalau emang mau ketemu dengan siamang untuk ngobrol ataupun foto-foto usahakan sampai di warung tersebut pada pukul yang saya sebutkan tadi.  Di warung-warung yang berada di tepi puncak gunung geurute ini menyediakan bermacam makanan dan minuman, harganya berkisar Rp. 10.000.

Tepat di depan warung siamang terdapat tulisan PEUNIYOH PUNCAK GEURUTE ACEH JAYA, dan juga ada tangga menuju ke atas puncak gunung, di sana kita dapat mengabadikan pemandangan yang sangat indah. Berikut foto-foto yang saya ambil ketika mengunjungi Gunung Geurute;











Saya menghabiskan waktu selama satu jam lebih Geurute, sebenarnya setelah warung siamang ini, masih ada lagi pemnadangan yang lebih indah, cukup lanjutkan perjalanan kita sejauh 500 meter ke depan, maka kita akan mendapatkan pemandangan yang lebih indah lagi. Seperti di bawah ini;



Pukul 12 lewat saya kembali ke Banda Aceh, ketika melewati Lhok Seudu, saya berhenti untuk bersitirahat sambil menikmati pemandangan, setelah puas beristirahat sayapun kembali melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.