Tampilkan postingan dengan label Mountain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mountain. Tampilkan semua postingan

Februari 12, 2016

Makam Teuku Umar, Pantai Ujong Karang,dan Pantai Suak Ujong Kalak

Hari ke dua berada di Kota Meulaboh, malam sebelumnya saya dan Kak Zaky sudah janjian untuk gowes pagi-pagi buta, pukul 06:15 WIB kami berdua menyusuri Kota Meulaboh. Seperti kota-kota lainnya, Kota Meulaboh, bangunannya tertata rapi, bersih, banyak pertokoan, perkantoran, hotel dan sarana lainnya. Tujuan kami adalah melihat sunrise di tepi pelabuhan, kamipun menyusuri jalanan yang berada di tepi laut, nama tempatnya adalah Ujong Karang, tempat ini persis ditepi laut, banyak diletakkan pemecah ombak yang terbuat dari beton, tak terbayangkan ketika tsunami terjadi pada tahun 2004 silam, bagaimana terjangan ombak yang meluluh lantakkan segala sesuatu yang ada di tempat ini. Selama menyusuri jalanan sekitar pantai terlihat banyak kapal nelayan yang berangkat ke laut, terlihat juga sebuah pabrik batu bara yang berada di ujung seberang lautan, cerobongnya mengeluarkan asap.



Setelah menyusuri Ujong Karang kamipun melanjutkan rute kami ke sebuah monumen di mana tempat gugurnya Teuku Umar ketika berperang melawan Kaphee  Belanda, sebuah monumen yang berbentuk Kupiah Meukutop topi khas adat Aceh, monumen ini terletak di kawasan pantai Suak Ujong Kalak. Monumen ini berada kurang lebih 20 – 25 meter dari bibir pantai, sayapun coba merasakan dan meresapi kejadian ketika Pahlawan Teuku Umar ditembak oleh penjajah Belanda, tragis sekali rasanya jika berada di tempat kejadian tersebut persisnya pada tanggal 11 Februari 1899 menyaksikan perlawanan Teuku Umar bersama pejuang lainnya melawan Penjajah Belanda di mana Teuku Umar bersimbah darah ditembaki Kaphee Belanda tepat di dadanya dengan peluru emas.
Waktu menunjukkan pukul 09:00 WIB, waktu kembali ke rumah untuk breakfast dan bersih-bersih setelah ngos-ngosan dan berkeringat selama gowes mengelilingi Kota Melaboh. 
 

Breakfast selesai, bersih-bersih juga selesai. Saya dan Kak Zaky pergi mengunjungi Makam Teuku Umar yang termasuk situs wisata yang wajib dikunjungi ketika berada di Aceh Barat, kali ini ditemani Kak Evi, horeeeeeeeeeeeeeeee, makin rame. Tidak sulit untuk menuju ke  tempat ini. Terletak di pinggir jalan raya Meulaboh sekitar 40 km dari Kota Meulaboh, Desa Mugou Rayeuk, Kecamatan Panton Reu, ketika menyusuri jalan ini, akan terlihat gapura di sebelah kiri, kemudian masuk ke dalam kawasan hutan berbukit, sekarang jalannya sudah diaspal, jadi sangat mudah untuk dilewati. Kemudian berjumpa gapura lagi, untuk kendaraan roda empat disediakan tempat parkir, sedangkan kendaraan roda dua, diperbolehkan untuk parkir di dalam, kemudian berjalan kaki menaiki dan menuruni tangga sejauh 100 meter, ada juga jalan yang tidak bertangga, tinggal pilih sesuai selera kita.


 

Tiba di komplek pemakaman, suasana sangat teduh dan senyap sekali. Tenang dan nyaman rasanya ketika berada di tempat ini. Tempatnya juga bersih. Walaupun tempat ini bersih dari sampah, akan tetapi sesekali kita akan dibuat tidak nyaman akibat gigitan nyamuk, hal ini dikarenakan letak makam ini berada di tengah-tengah hutan, tepatnya di hutan Glee Mugou. Jadi jangan heran ya... 

Satu cerita yang perlu kita ketahui seputar Makam Teuku Umar ini adalah ketika jenazah Teuku Umar hendak dimakamkan, pasukan Teuku Umar membawanya dan mengelabui dengan membuat enam petilasan makam dan terakhir di tempat Teuku Umar dimakamkan sekarang, hal ini dilakukan agar jenazah Teuku Umar tak diambil oleh Penjajah Belanda.

Puncak Geurute Aceh Jaya

Awal tahun 2016 ini begitu banyak cerita yang saya lalui. Akhir 2015 saya dapat cuti dari bos tempat saya bekerja, lamanya tak tanggung-tanggung, satu bulan guys, lama banget tu kan. Saya pakai waktu cuti tersebut untuk pulang ke kampung halaman. Tanggal 03 Januari 2016 saya berangkat ke Langsa, selama di Langsa, I spent my days bersama keluarga saya. Beda rasanya, biasanya setiap pulang kampung saya selalu excited untuk bertemu teman kuliah, KPM (KKN) atau SMA dan juga jalan-jalan ke sana sini serta berwisata kuliner di Langsa yang tiada habis-habisnya. Akhirnya saya hanya berkinjung ke Kuala Langsa dan juga bersetemu dengan teman SMA di har-hari terakir saya di Langsa.

Tanggal 26 Januari 2016 saya berangkat kembali ke Banda Aceh seorang diri, bukan untuk kembali bekerja di tempat kerja saya yang dahulu, saya memutuskan untk resign dan mencari pekerjaan di tempat yang lain. Sembari menunggu panggilan interview dan juga mengirimkan surat lamaran pekerjaan, hari-hari di Banda Aceh saya gunukan untuk relax dan santai (apa bedanya antara relax dan santai?)

Karena sudah bosan terus-terusan di rumah, pada tanggal 30 Januari 2016, tepatnya hari Sabtu, saya pergi ke Gunung Geurute, Aceh Jaya sendirian dengan menggunakan sepeda motor saya. Sebenarnya perjalanan ini sudah saya rencanakan sebelumnya, lagipula selagi ada waktu kenapa tidak.

Pukul 09.00 WIB pagi, saya pacu kendaraan saya menuju ke Geurute, perjalanan menghabiskan waktu selama 1 ½ jam. Selama diperjalanan kita akan melewati dua buah pegunungan, yaitu gunung paro dan gunung kulu, kita disuguhi dengan pemandangan alam yang hijau, sesekali ada sekumpulan monyet liar yang sedang mencari makanan di pinggir jalan. Mengendarai kendaraan selama di gunung ini harus ekstra hati-hati dan fokus, karena jalannya meliuk-liuk dan di bawahnya ada jurang, salah-salah kita bisa masuk ke salah satu tempat yaitu surga, neraka ataupun rumah sakit. hahahahaha

Sampai di Geurute saya langsung singgah di warung siamang, sayangnya siamangnya sudah pulang ke rumah sendiri, jadi kami tidak sempat bertegur sapa. Rupanya, siamang punya jadwalnya sendiri kalau ke warung tersebut, yaitu pukul 9-10 pagi, kemudian siang hari pukul 2-3 dan sorenya pukul 3-4. Jadi kalau emang mau ketemu dengan siamang untuk ngobrol ataupun foto-foto usahakan sampai di warung tersebut pada pukul yang saya sebutkan tadi.  Di warung-warung yang berada di tepi puncak gunung geurute ini menyediakan bermacam makanan dan minuman, harganya berkisar Rp. 10.000.

Tepat di depan warung siamang terdapat tulisan PEUNIYOH PUNCAK GEURUTE ACEH JAYA, dan juga ada tangga menuju ke atas puncak gunung, di sana kita dapat mengabadikan pemandangan yang sangat indah. Berikut foto-foto yang saya ambil ketika mengunjungi Gunung Geurute;











Saya menghabiskan waktu selama satu jam lebih Geurute, sebenarnya setelah warung siamang ini, masih ada lagi pemnadangan yang lebih indah, cukup lanjutkan perjalanan kita sejauh 500 meter ke depan, maka kita akan mendapatkan pemandangan yang lebih indah lagi. Seperti di bawah ini;



Pukul 12 lewat saya kembali ke Banda Aceh, ketika melewati Lhok Seudu, saya berhenti untuk bersitirahat sambil menikmati pemandangan, setelah puas beristirahat sayapun kembali melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.

Oktober 24, 2015

Jelajah Langee dan Ie Rah Bersama Aceh Explorer

"Gimana Far, berapa hari dapat libur?"
"tiga hari mak, kayaknya Farag ga bisa pulang ke Langsa Idul Adha ini"
"Ya udah... Lebaran di sana aja, nanti pas Idul Fitri, lebaranlah di kampung"

Itulah sepenggal percakapan antara saya dan mamak. Merayakan lebaran idul adha di kampung orang lain seperti mati gaya saja, sanak saudara dan handai taulan tak sebanyak di kampung halaman, tapi show harus tetap berjalan.

Terpikir ide, kenapa tidak waktu liburan ini dipakai untuk melakukan sebuah aktifitas. Beberapa bulan yang lalu, waktu liburan yang hanya secuil, saya gunakan untuk mengunjungi tempat wisata di Samahani, yaitu air terjun Kuta Malaka. Waktu itu saya pergi bersama empat teman saya yang belum pernah saya jumpai, mereka datang dari Meulaboh. Dan perjalanan waktu itu sangat mengesankan. Itulah perjalanan pertama kali yang saya lakukan dengan teman baru.

Oke, kembali lagi ke aktifitas apa yang saya lakukan untuk mengisi libur hari raya idul adha.

Jempol saya sibuk menyentuh screen Hp, saya pastikan dulu, apakah pulsa saya cukup untuk sms-an dengan kawan. Sms tersebut saya tujukan ke teman saya yang dari Meulaboh, karena saya tau mereka juga anak perantau seperti saya, tidak ada salahnya untuk saling sapa, siapa tau mereka juga mempunyai rencana yang sama seperti saya.

Pucuk dicintai, ulam pun tiba. Saya mengajukan banding, maksudnya usul kepada teman saya, bagaimana kalau liburan kali ini kita ke Pulau Aceh, kita bisa menginap di sana. Membahas rencana ke Pulau Aceh yang sangat alot, akhirnya kami tidak jadi ke Pulau Aceh. Plan A tidak berhasil, kamipun beralih ke Plan B.

Plan B kami adalah trekking ke Pantai Langee. Menurut cerita yang beredar dari masyarakat dan juga para pecinta keindahan alam, pantai, gunung dan laut. Untuk menuju ke Pantai Langee, sangat tidaklah mudah. Karena Pantai Langee terletak di balik bukit, akses menuju ke sanapun terbilang sulit, salah jalan bisa tersesat di dalam hutan selama-lamanya. Oleh karena itu harus ada orang yang paham betul seluk beluk tempat tersebut. Satu hal, hutan tersebut ada empunya, siapa? Empunya adalah para masyarakat desa tersebut. Pantai Langee masih satu areal dengan Pantai Lampuuk, tapi mereka dipisahkan oleh bukit bebatuan, sayang sekali ya... Mungkin mereka ga jodoh, makanya mereka ga bisa bersatu.

Nah, untuk menuju ke Pantai Langee, harus minta izin dulu dengan Kepala Desa dan juga Mukim Lampuuk, kalau tidak dikasih ya jangan dipaksa. Kalau dikasih, akan ada satu atau dua pemuda dari Gampong yang akan menemani, mengawasi sekaligus memandu kita untuk sampai ke Langee.

Kami berangkat pada tanggal 26 September 2015, sebelum hari H, saya membahas rencana saya kepada seseorang, dan dia menyarankan untuk pakai pemandu Aceh Explorer, pemandunya adalah penduduk desa Lampuuk sendiri. Bagai menyelam minum air, jadi tidak usah mesti izin lagi sama kepala desa dan mukim, karena semuanya sudah dihandle sama pemandu dari Aceh Explorer.

Setelah dikusi alot berakhir, satu hari sebelumnya saya dan teman-teman sudah membahas apa-apa saja yang perlu dibawa, karena besok kami akan melewati hutan, sudah pasti tidak ada yang menyediakan makanan dan minuman. Alhasil harus sediakan sendiri sebelumnya. Kami membawa stok makanan, seperti roti, snack, buah, nasi, dan minuman yang paling penting.

Pada hari Sabtu, tanggal 26 September 2015, perjalananpun dimulai. Kami berlima, Saya, Miftah, Zaky, Evi dan juga Peter. Peter adalah laki-laki dari Jerman, dia tiba di Banda Aceh, setelah lima hari berlibur di Sabang, karena waktu itu masih momen idul adha, kota Banda Aceh bagaikan kota mati, tidak banyak aktivitas yang bisa dilakukan. Akhirnya Peter memutuskan untuk ikut dengan kami.


Evi, Farah, Miftah, Jun, Peter, Ril, Zaky
Sebelum menuju ke Lampuuk, kami membeli beberapa makanan dan minuman untuk persediaan kami selama perjalanan menuju Pantai Langee. Sampai di Lampuuk, kami menjumpai Pemandu Aceh Explorer di depan Masjid Rahmatullah Lampuuk, setelah bersalaman dan berkenalan, kamipun melanjutkan perjalanan ke Pantai Langee dengan sepeda motor. Jalan mulai menanjak ke atas, sesekali tanah lembur, kemudian bebatuan, gaspooooooooooooooooooool sampai mesin panas. Akhirnya berhenti dan memarkirkan sepeda motor kami di dekat salah satu perkebunan warga.

Jalan bebatuan, bisa hancur motornya apalagi matic
Trekking dilakukan selama dua jam, menyusuri jalanan tanah, kemudian batu, tanah, batu, tanah, batu lagi, tanah lagi, sesekali sungai kecil, kecil sekali, kira-kira umurnya 7 bulan, jadi masih bisa di lewati, ga mesti berenang. Buat kalian yang mau pergi kesana, usahakan pakai pakaian yang menutupi seluruh tubuh, celanan panjang, baju lengan panjang, karena banyak nyamuk di hutan, cape ladenin nyamuk, mending ladenin kamu. Hahahaha.

Peter pakai T-shirt dan celana pendek, dia bilang "I must keep moving, they bite me". Jadinya dia gerak terus, supaya nyamuk ga gigit.

Banyak pohon-pohon besar yang kami temui selama perjalanan, ada juga pohon yang terlihat menyeramkan. Alhamdulillah ga terjadi apa-apa. Selama perjalanan kami hanya mendengarkan suara hewan, seperti suara belalang hutan, ada juga suara lolongan anjing yang menjaga kebun milik warga. Kami juga beristirahat sejenak dengan makan dan minum dari bekal yang kami bawa.
Istirahat setelah satu jam perjalanan
Berfoto di pohon besar
Seram pohonnya
Pohon besar
Akhirnya,setelah trekking dua jam, kamipun sampai di Pantai Langee. Wah, it's amazing, pasir putih dengan deburan ombak laut biru.... It's perfect, apalagi tidak ada orang satupun selain kami.
Langee Beach

Sembari menikmati keindahan laut dan pantai, kami makan siang bersama, sambil ngobrol dan bercanda. Setelah makan-makannya selesai, kami berjalan menyusuri pantai, ternyata tepat di sebelah kiri kami (jika kami menghadap ke pantai) ada sebuah benteng peninggalan penjajah Belanda yang sudah menyatu dengan bukit, benteng ini dulunya digunakan untuk memantau perairan laut jika ada musuh atau kapal lain yang datang, mereka langsung bombardir musuh mereka.
Tempat yang asik untuk makan, berlindung dari teriknya matahari
Benteng peninggalan Belanda
Yang lagi ber pose di atas benteng ^_^
Setelah melihat-lihat dan tentunya berfoto ria, kami melanjutkan perjalanan kami ke satu tempat yang tak kalah menarik. Yaitu Ie Rah, adalah karang batu yang menyemburkan air dari bawah ke atas. Hal ini terjadi karena tekanan ombak yang menghatam bebatuan, dan menyebabkan air laut menyembur ke atas, karena air laut memasuki celah-celah yang ada di dinding bebatuan dan mencari jalan keluarnya. Semakin besar dan kuat ombak yang menghatam dinging bebatuan, semakin tinggi pula air yang menyembur ke atas.

Untuk sampai kesana, tantangannya lebih berat jika dibandingkan ke Pantai Langee, kami harus melewati bebatuan, permukaan hamparan bebatuan ini begitu absurd, sehingga sulit untuk dijelaskan, seperti bentuk meteor, ukurannya besar, tinggi juga, dan permukaan bebatuan itu berwarna hitam dan tajam sekali. Dan kamipun harus climbing, iya, kami climbing. Medannya adalah bebatuan, kemudian pasir lagi, terus bebatuan lagi, climbing lagi, terus jalan lagi. Sesekali kami harus menghadapai betapa pahitnya medan batu ini, yang membuat kami seperti mau menyerah, namun dengan bantuan pemandu Aceh Explorer kami pun berhasil melewati tantangan dan rintangan badai yang menerjang, hahahaha. Pokoknya keren deh buat pemandunya, mereka arahkan batu yang dipijak dan juga batu yang dipegang, Salut buat mereka yang handal dan profesional.

Photos By Farrah
Si Peter nyeker, padahal batunya panas banget.
Pemandu kam
Medan - Banda Aceh, Ooops, Medan Bebatuan maksunya :D
Sambil jalan pelan-pelan
Medan Pasir
Tantangan dan rintangan

 Photo By Miftah
Harus hati-hati supaya ga tergelincir
Ini spot yang lumayan bikin dag dig dug
Ini juga
 

Seteleah rocks climbing dan sands walking (hehehehe), kami tiba di Ie Rah,,,,
Kak Evi pake ilmu, airnya nyembur
Foto-foto di Ie Rah

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

I Lop Piyuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu,
Dil Mera,
Har Baar yeh,
Sunne ko,
Bekaraar hai,
Kaho na pyar hai, 
Kaho na pyar hai,

Hahaha, seru, indah dan menakjubkan, 
Masya Allah..... It's sooooooooooooo beautiful, lagit biru, awan putih, pasir teh susu, sanger (warnanya), pohon-pohon, rumput hijau, trus ada bukit dan tebingnya lagi, perfect kan? Coba tempat seperti ini, mudah diakses, pasti ramai yang datang, eh kalau ramai yang datang udah ga seru lagi dong, ntar ada yang jualan, ada yang bikin lapak, ada ada aja nanti yang akan terjadi, moga-moga ga terjadi, yang penting saling menjaga, kalau ada yang melangges, langsung larang.

Di Ie Rah, kami merasakan air semburannya, wow, kuat sekali tekanannya, kami menikmati bermain air selama setengah jam, puas bermain kami beristirahat dan mengeringkan diri sambil menikmati pemandangan. Pukul tiga sore, kami mulai bergerak pulang dan ya, kami harus melewati jalan dan medan yang tadi. Tiba di tempat parkiran motor, dan melanjutkan jalan turun ke bawah, saat turun ke bawah dengan menggunakan motor, rasanya ngeri-ngeri sedap, seakan-akan bagian belakang sepeda motor saya jungkir ke depan, dua kali saya berhenti dan meminta pemandu untuk mengendarai motor saya dan saya dibonceng di belakang. Dag Dig Dug Rasanya..... Saya pikir, saya sudah celaka, tapi syukur alhamdulillah, selama perjalanan pergi dan pulang tidak ada luka gores sedikitpun. Aman dan Selamat.

Finally we arrived in downtown sekitar maghrib, Evi, Zaky, Miftah, dan Peter kembali ke penginapan, sedangkan saya, kembali ke rumah untuk membersihkan diri dan beristirahat.
Terima kasih telah membaca cerita pengalaman saya menjelajah Langee dan Ie Rah.