Tampilkan postingan dengan label Nikon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nikon. Tampilkan semua postingan

Februari 27, 2016

Bambu Runcing Kota Langsa

Di Kota Langsa, selain tempatnya yang asik untuk wisata kuliner, karena ada banyak sekali jajanan murah dan enak. Ada juga tempat lainnya yang cocok untuk dijadikan tempat berkumpul bersama teman-teman dan juga keluarga.
Tugu Taman Bambu Runcing

Taman Bambu Runcing, ada juga yang hanya menyebutkan Bambu Runcing, adalah taman tengah kota yang letaknya sangat strategis, bersebelahan dengan Lapangan Merdeka Kota Langsa. Taman ini berada di Jl. Ahmad Yani. Untuk menuju ke taman ini mudah sekali karena letaknya berada di pinggir jalan kota.

Dibangun pada tanggal 17 Agustus 1948 sebagai simbol perjuangan Rakyat Indonesia (Aceh khususnya) melawan penjajah. Di sekitar taman ini tersedia beberapa fasilitas, seperti; tempat duduk, footpath, tong sampah, toilet dan juga mushola.

Setiap harinya ramai sekali pengunjung yang datang ke tempat ini, apalagi kalau hari weekend tepatnya sore hari. Sebelum memasuki taman bambu runcing, ada baiknya untuk membeli makanan dan minuman terlebih dahulu. Untuk masuk ke sini, tidak dikenakan biaya, alias gratis.
Pintu Gerbang Taman Bambu Runcing Kota Langsa

Sedang belajar bersama, sampai-sampai naik ke atas meja

Terlalu serius

Jangan lupa foto bersama ;)

Foto di atas tugu Bambu Runcing
Pengunjung yang sedang pacaran

Di taman ini terdapat satu buah tembok tugu yang dibangun bertingkat-tingkat yang di tingkat terakhir terdapat bambu runcing yang merupakan simbol dari taman tersebut, sayangnya banyak sekali corat coret yang terdapat di sepanjang tembok dinding tugu ini, ada juga sebuah kolam air mancur, namun sayangnya kolam ini tidak mengeluarkan air dan juga terdapat banyak sampah di dalam kolam ini. Di dinding bagian taman ini ada dua buah plakat lukisan yang menceritakan bagaimana perjuangan rakyat Indonesia memperoleh kemerdekaan.
Air Mancur dan Musholla

Tugu dan Air Mancur

Air Mancur

Bambu Runcing yang banjir corat coret


Footpath di Taman Bambu Runcing

Bambu Runcing

Footpath dan Pepohonan Bambu Runcing

Lukisan Plakat Bambu Runcing

Lukisan Plakat Bambu Runcing

Bambu Runcing Kota Langsa

Bambu Runcing Kota Langsa

Bambu Runcing Kota Langsa

Taman ini belum dimaksimalkan dengan baik oleh pemerintah dan masyarakat setempat. Masih banyak sampah di mana-mana, kolam air mancur yang tidak difungsikan dan juga tidak ada fasilitas bermain untuk anak usia lima tahun ke bawah seperti ayunan, perosotan dll. Semoga pemerintah Kota Langsa kembali memaksimalkan tempat ini dan juga para pengunjung selalu menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah sembarangan serta menjaga dan merawat lingkungan.

Februari 19, 2016

Pasi Saka Aceh Jaya

Bagi anda yang suka akan pasir putih seperti buih cappuccino bergradasi coklat tua, air laut yang jernih bergradasi biru kehijau-hijauan, sekaligus trekking yang bisa bikin keringat bercucuran. Pantai yang satu ini adalah pantai yang tepat untuk dikunjungi.

Pasi Saka
Pasi Saka, terletak di Desa Babah Nipah, Sampoiniet, Aceh Jaya. Tidak jauh dari kilometer 117 di seberang jalan sebelah kanan jika anda dari Banda Aceh - Meulaboh. Cukup berbelok ke dalam lorong tersebut, kemudian anda akan menemukan sebuah masjid yang terletak di sebalah kanan dan beberapa rumah di sebelah kiri. Parkirlah kendaraan anda di depan rumah tersebut. Jangan lupa untuk katakan kepada orang di sekitar rumah tersebut yang sering menjadi petugas pasrkir, bahwa anda ingin memarkirkan kendaraan anda. Cukup bayar Rp. 5000/kendaraan (motor).

Jika anda belum pernah ke pantai ini, ada beberapa pemuda gampong yang bersedia menjadi guidenya. Namun bagi para pengunjung yang sudah beberapa kali ke pantai ini dan pergi bersama teman-teman yang berlawanan jenis. Mau tak mau akan ada pemuda yang ikut menjadi pengawas karena pantai tersebut berbasis syari'ah, jadi diawasi, siapa tau ada pengunjung yang mesra-mesraan selama di pantai. wkwkwkwkwk

Dari perumahan tersebut, anda akan berjalan memasuki semak-semak yang ilalangnya sudah dibersihkan, kemudian naik ke bukit lalu menuruni bukit, barulah tampak sebuah hamparan indah, pohon cemara, rerumputan dan laut yang biru.

Eits, tapi bukan pantai yang ini yang dinamakan Pasi Saka, butuh trekking selama kurang lebih satu jam untuk bisa menginjakkan kaki di pantai yang pasirnya seperti gula pasir ini. Itulah kenapa pantai tersebut dinamakan Pasi Saki. Dalam Bahasa Aceh; "Pasi" berarti Pantai dan "Saka" berarti Gula. Awas jangan sampai mengecap pasirnya, karena rasanya tidak manis.

Ada lembu lagi berteduh

Jalurnya kelihatan jadi akan lebih mudah
Beristirahatlah jika kelelahan
Rumput hijau bergandengan dengan cemara dan pasir pantai
 
Alam yang asri, tolong jangan dikotori ya...
Bebatuan pantai menuju Pasi Saka
 
Jangan lupa kodak....

Bareng teman

Istirahatlah, ga perlu buru untuk sampai ke lokasi

Yang hobby fishing

Harus jalan lagi....

Hampir sampai

Setelah trekking kurang lebih satu jam dengan melewati kontur tanah padat, turun naik bebukitan, pasir pantai, bebatuan dan juga sedikit tebing, maka sampailah di tempat yang dituju, jeng jeng jeng jeng ....

Here it is, Pasi Saka Beach

Warna pasirnya seperti cappuccino kan?

Pasi Saka

Eloknya Pasi Saka

Sooooooooooooo amazing

Dari atas bukit
Itulah keindahan Pasi Saka, pantai ini tidak terlarang, siapa saja boleh datang asalkan tujuannya untuk berwisata, bukan yang macam-macam. Mau piknik bakar-bakar ikan silahkan, mau berenang juga boleh, mau mancing bisa, mau meuramin juga asik, tapi ingat satu hal jaga kebersihan ya friends. Suapaya alam kita selalu lestari.

Untuk jalan pulang, anda bisa gunakan jalur yang sama ketika anda pergi. Namun ada satu jalur lagi, jalur yang ini lebih menguji adrenalin, yaitu jalur tebing vertikal setinggi 20-an meter yang dilengkapi dengan seutas tali tambang. Tergantung selera anda mau pilih yang mana.

Oh ya, tips dari saya bila anda mau berkunjung ke Pasi Saka;
  1. Pergilah pada pagi hari, karena setelah sampai di desa tersebut, anda akan melakukan trekking kurang lebih satu jam, jadi terik matahari tidak terlalu membakar.
  2. Gunakan alas kaki yang empuk, kalau bisa tertutup.
  3. Bawalah makanan dan minuman. Untuk satu orang minimal satu bungkus nasi dan air minum kemasan yang ukuran 5 liter. Selama trekking ga ada yang jualan, jadi sebelum sampai di desa tersebut belilah atau bawalah bekal yang cukup dari rumah.
  4. Gunakan sun block bagi anda yang takut kulitnya gelap.
  5. Bila merasa lelah saat trekking, carilah tempat yang teduh untuk beristirahat.
  6. Jangan datang ke tempat ini pada saat musim hujan, karena akan kesulitan ketika trekking.
Oke, bagi anda yang berniat mau ke sana, dijamin tidak akan menyesal. Keindahan alamnya begitu mempesona. Mudah-mudahan suatu hari nanti saya bisa berkunjung lagi ke tempat ini.

Februari 13, 2016

Danau Genang-Gedong (yang kini) Tinggal Kenangan

Jarum jam tangan saya terus berputar, menunjukkan pukul 12:35 WIB, sudah waktunya makan siang.
Sebelum berangkat, kami sudah membeli makan siang untuk dimakan bersama dengan teman lainnya. Teman-teman sayapun membawa saya ke suatu tempat yang belum pernah saya datangi sebelumnya. Sudah pasti, ini adalah kali pertama saya berkunjung ke Aceh Barat, jadilah teman-teman saya ini sebagai guide pribadi saya, hehehehe. 

Setelah berziarah ke makam Teuku Umar Johan Pahlawan, kami kembali ke arah jalan pulang, kemudian motor kamipun berbelok ke lorong yang berada di sisi kanan seberang jalan.
Sepeda motor kami lajukan beberapa puluh meter ke dalam kawasan danau, sampailah kami di sana. 

Danau Genang-Gedong, berada di Gampong Putim, Kecamatan Kaway XVI, Kabupaten Aceh Barat, 20 km dari Kota Meulaboh menuju Banda Aceh melewati Geumpang. Suasana tentram, damai dan teduh sekali, itulah yang saya rasakan. Sepi, padahal hari itu adalah hari Minggu. Kamipun memarkirkan sepeda motor kami di bawah pohon di antara bangunan kayu yang terlihat kotor dan warung yang berisikan beberapa pemuda yang sedang menyuruput kopi mereka yang tampak sedang asik mengobrol.
Piyoh.....! Kata salah satu dari mereka
Jeut.... Kami menjawab.



Perut mulai keroncongan, kamipun mengambil bekal makanan kami, kami beranjak ke atas bukit, di sanalah kami menikmati makan siang kami, sambil menikmati hamparan danau alami yang meliputi tiga desa ini. Kami begitu semangat menyantap makanan, bagaimana tidak, bebukitan yang diselimuti rumput hijau, beberapa pepohonan melambai dihembus angin lembut dan permukaan danau yang tenang membuat kami sangat menikmati makan siang walaupun dengan menu yang sederhana.
Santai sejenak sembari mengabadikan momen dengan kamera, titik airpun jatuh satu persatu, sepertinya akan hujan. Dengan tergesa-gesa kami turun ke bawah bukit, menyelamatkan diri masing-masing dari air langit. Hujan, kamipun berteduh di bangunan kayu tua dekat dengan tempat di mana kami memarkirkan sepeda motor kami sebelumnya.





Hujan semakin lebat, mengaburkan pandangan kami ke arah ujung danau, beberapa kerbau asik bermandikan hujan dan beberapa diantara mereka ada yang memilih untuk berendam ke dalam danau yang air pasti hangat sekali.





Teman saya menceritakan, bahwa dulunya tempat wisata ini sangatlah sibuk dan ramai, banyak orang yang piknik, memancing, bermain boat bebek di danau ini, namun sekarang tidak lagi. Lantas saya bertanya, apa yang terjadi. Teman saya menjawab hal ini karena terdengar isu bahwa ada ikan yang ukurannya besar sekali yang mendiami danau ini, sehingga membuat para pengunjung menjadi takut. Sungguh sangat disayangkan, beberapa fasilitas seperti mushalla, toilet, dan juga kafe tampak tidak terawat, padahal jika tempat wisata ini terus dihidupkan dan dikelola, maka tempat ini akan semakin terkenal, semakin maju dan taraf ekonomi masyarakat pasti akan berkembang dan membuat para masyarakat akan memiliki penghidupan yang lebih baik.

Sungguh malangnya kau Geunang-Gedong meninggalkan kenangan indah bagi mereka yang telah datang.