Maret 02, 2016

Sehari di Pusong (Telaga VII), Langsa

Setiap perjalanan pasti memiliki cerita yang berbeda. Kali ini adalah tempat baru yang saya kunjungi bersama teman-teman saya. Tanpa direncanakan jauh-jauh hari, akhirnya cerita perjalanan kali ini adalah Desa Telaga VII, Pulau Pusong, Kecamatan Langsa Barat.

Pusong merupakan nama sebuah pulau sekaligus desa yang berada di perariran Kuala Langsa. Selain nama Pusong, ada juga yang menyebutnya Telaga VII (Tujuh). Desa ini berhadapan langsung dengan Selat Malaka. Pusong terlatak sejauh 6 mil dari Pelabuhan Kuala Langsa, butuh 40 menit untuk sampai kesini dengan biaya Rp. 5000/ trip dengan menggunakan kapal penumpang.

Sebelum berangkat, saya dan teman lainnya sudah mempersiapkan bekal makanan dan juga minuman. Sampai di Kuala Langsa, tepatnya di tempat pendaratan ikan (TPI), di situlah perjalanan dimulai. Kalau kalian membawa kendaraan, cukup parkirkan di tempat yang disediakan pengelola parkir, tukang parkirpun akan memberikan sebuah kertas yang bertuliskan nomer. Sekali parkir dikenakan biaya Rp. 5000.

Kamipun langsung menaiki boat penumpang dengan penumpang-penumpang yang lain. Selama di dalam perjalanan, saya dan teman-teman yang lain mengobrol dengan para penumpang yang sebagian besar adalah masyarakat Desa Pusong. Banyak yang bertanya kepada kami, sudah pernah ke Pusong sebelumnya? Apakah punya teman di Pusong?. Syukur salah satu dari teman saya, memiliki banyak teman yang tinggal di desa tersebut, salah satunya Tana.

Sampai di dermaga Pusong, kamipun bertanya kepada para penduduk di manakah rumah Tana. Mantapnya, semua warga mengenali temannya teman saya ini. Rasa sosial di sana sangatlah tinggi, takheran mulai dari anak-anak hingga orang dewasa sangat kenal betul penduduk yang tinggal di desa tersebut. Seorang anak kecil dengan senang hati menunjukkan dan mengantarkan kami ke rumah Tana. Akhirnya kamipun sampai.

Sarana di Pusong sebenarnya cukup memadai, seperti listrik dan air. Hanya saja di desa ini tidak ada kendaraan bermotor seperti sepeda motor bahkan mobil. Hal ini dikarenakan desa ini kecil sekali, cukup satu jam lebih untuk berkeliling mengitari desa (pulau) ini dengan berjalan kaki. Lebar jalan umumnya tidak lebih dari dua meter, jalanya terbuat dari semen dan sebagian ada yang terbuat dari kayu. Desa ini memiliki tiga buah gedung sekolah (1 PAUD, 1 SD dan 1 SMP), dan juga sarana lainnya seperti PUSTU, masjid, dll.

Kamipun dijamu begitu hangat oleh Tana, kami depersilahkan masuk. Ketika dalam perjalanan menuju rumah Tana, para warga masyarakata di desa ini begitu ramah. Siapapun mereka selalu memberikan senyum dan keramahan mereka kepada kami. Banyak yang mengatakan bahwa penduduk desa pusong ramah sekali, dan itu terbukti.

Setelah bersalaman dengan Tana dan anggota keluarganya, kamipun langsung makan siang sambil mengobrol dengan Tana. Obrolan kamipun seputar Pulau Pusong ini. Tentang bagaimana aktifitas masyarkat Pusong sehari-hari. Setelah makan siang selesai, kamipun pergi menuju masjid, satu-satunya masjid yang ada di desa ini. Masjidnya bersih  dan sejuk sekali. Air wudhunya segar dan tidak asin. Di belakang masjid ini, kami disuguhi dengan pemandangan laut yang berombak yang dilindungi dengan tanggul ombak yang berwarna krem.





Selesai shalat, kami kembali ke rumah Tana. Sebagai tuan rumah, Tana mengajak kami berjalan-jalan mengililingi desa ini. Kami diajak ke Ujong Psuong. Sayangnya, kami sedang tidak beruntung. Laut sedang berombak, jadi tidak bisa bebas untuk pergi sampai ke pesisir. Akhirnya kamipun hanya menikmatinya dari jauh. Mata saya selalu memerhatikan sebuah pulau yang berada di sisi kiri pulau Pusong. Pulau tersebut sepertinya tak berpenghuni dipenuhi pepohonan hijau yang lebat sekali.






Ada beberapa cerita yang saya dengar tentang sebuah pulau yang berdekatan dengan pulau Pusong. Ada yang mengatakan pulau itu yang menyelamatkan hidup masyarakat desa Pusong dari angin kencang, ombak besar bahkan tsunami 2004 lalu. Pada saat tusnami terjadi, gelombang besar terpecah terlebih dahulu ketika melewati pulau tersebut. Mungkin itulah mengapa pulau tersebut tidak dihuni atau ditempati manusia, dengan alasan supaya lingkungan yang ada di pulau tersebut tetap terjaga. Jika kita menjaga alam, maka alampun akan menjaga kita. Ada juga yang mengatakan kalau pulau itu adalah pulau keramat, di sana ada tujuh buah telaga, dan hanya orang-orang tertentu yang bisa melihatnya.
Mungkin lain kali kami akan ke pulau itu, pulaunya berpasir putih, dipenuhi kera dan binatang lainnya.

Haripun mulai senja, karena hari Jumat, kami harus segera meniggalkan Desa Pusong sebelum jam 5 sore. Karena tidak ada lagi kapal penumpang yang beroperasi setelah waktu tersebut, kecuali kalau kita mau membayar atau lebih tepatnya mencarter kapal supaya bisa kembali ke Kuala Langsa.

Setelah berparmitan dengan Tana, kamipun menuju kembali ke dermaga Pusong, menunggu kapal yang akan mengantarkan para penumpangnya kembali ke Kuala Langsa.

***
Kapalpun mulai berlayar, memecah riak ombak menderu.
Dan kamipun tak lepas pandang dari pulau itu.
Para penduduknya yang ramah dan selalu memberi senyum.
Membuat siapa saja yang datang, ingin kembali di suatu waktu

2 komentar:

  1. nama saya ramli saya lahir dipulau pusung thn 1963 lalu saya merantau kesumatra utara tepatnya disibolga 1975 bersama

    BalasHapus