Oktober 24, 2015

Jelajah Langee dan Ie Rah Bersama Aceh Explorer

"Gimana Far, berapa hari dapat libur?"
"tiga hari mak, kayaknya Farag ga bisa pulang ke Langsa Idul Adha ini"
"Ya udah... Lebaran di sana aja, nanti pas Idul Fitri, lebaranlah di kampung"

Itulah sepenggal percakapan antara saya dan mamak. Merayakan lebaran idul adha di kampung orang lain seperti mati gaya saja, sanak saudara dan handai taulan tak sebanyak di kampung halaman, tapi show harus tetap berjalan.

Terpikir ide, kenapa tidak waktu liburan ini dipakai untuk melakukan sebuah aktifitas. Beberapa bulan yang lalu, waktu liburan yang hanya secuil, saya gunakan untuk mengunjungi tempat wisata di Samahani, yaitu air terjun Kuta Malaka. Waktu itu saya pergi bersama empat teman saya yang belum pernah saya jumpai, mereka datang dari Meulaboh. Dan perjalanan waktu itu sangat mengesankan. Itulah perjalanan pertama kali yang saya lakukan dengan teman baru.

Oke, kembali lagi ke aktifitas apa yang saya lakukan untuk mengisi libur hari raya idul adha.

Jempol saya sibuk menyentuh screen Hp, saya pastikan dulu, apakah pulsa saya cukup untuk sms-an dengan kawan. Sms tersebut saya tujukan ke teman saya yang dari Meulaboh, karena saya tau mereka juga anak perantau seperti saya, tidak ada salahnya untuk saling sapa, siapa tau mereka juga mempunyai rencana yang sama seperti saya.

Pucuk dicintai, ulam pun tiba. Saya mengajukan banding, maksudnya usul kepada teman saya, bagaimana kalau liburan kali ini kita ke Pulau Aceh, kita bisa menginap di sana. Membahas rencana ke Pulau Aceh yang sangat alot, akhirnya kami tidak jadi ke Pulau Aceh. Plan A tidak berhasil, kamipun beralih ke Plan B.

Plan B kami adalah trekking ke Pantai Langee. Menurut cerita yang beredar dari masyarakat dan juga para pecinta keindahan alam, pantai, gunung dan laut. Untuk menuju ke Pantai Langee, sangat tidaklah mudah. Karena Pantai Langee terletak di balik bukit, akses menuju ke sanapun terbilang sulit, salah jalan bisa tersesat di dalam hutan selama-lamanya. Oleh karena itu harus ada orang yang paham betul seluk beluk tempat tersebut. Satu hal, hutan tersebut ada empunya, siapa? Empunya adalah para masyarakat desa tersebut. Pantai Langee masih satu areal dengan Pantai Lampuuk, tapi mereka dipisahkan oleh bukit bebatuan, sayang sekali ya... Mungkin mereka ga jodoh, makanya mereka ga bisa bersatu.

Nah, untuk menuju ke Pantai Langee, harus minta izin dulu dengan Kepala Desa dan juga Mukim Lampuuk, kalau tidak dikasih ya jangan dipaksa. Kalau dikasih, akan ada satu atau dua pemuda dari Gampong yang akan menemani, mengawasi sekaligus memandu kita untuk sampai ke Langee.

Kami berangkat pada tanggal 26 September 2015, sebelum hari H, saya membahas rencana saya kepada seseorang, dan dia menyarankan untuk pakai pemandu Aceh Explorer, pemandunya adalah penduduk desa Lampuuk sendiri. Bagai menyelam minum air, jadi tidak usah mesti izin lagi sama kepala desa dan mukim, karena semuanya sudah dihandle sama pemandu dari Aceh Explorer.

Setelah dikusi alot berakhir, satu hari sebelumnya saya dan teman-teman sudah membahas apa-apa saja yang perlu dibawa, karena besok kami akan melewati hutan, sudah pasti tidak ada yang menyediakan makanan dan minuman. Alhasil harus sediakan sendiri sebelumnya. Kami membawa stok makanan, seperti roti, snack, buah, nasi, dan minuman yang paling penting.

Pada hari Sabtu, tanggal 26 September 2015, perjalananpun dimulai. Kami berlima, Saya, Miftah, Zaky, Evi dan juga Peter. Peter adalah laki-laki dari Jerman, dia tiba di Banda Aceh, setelah lima hari berlibur di Sabang, karena waktu itu masih momen idul adha, kota Banda Aceh bagaikan kota mati, tidak banyak aktivitas yang bisa dilakukan. Akhirnya Peter memutuskan untuk ikut dengan kami.


Evi, Farah, Miftah, Jun, Peter, Ril, Zaky
Sebelum menuju ke Lampuuk, kami membeli beberapa makanan dan minuman untuk persediaan kami selama perjalanan menuju Pantai Langee. Sampai di Lampuuk, kami menjumpai Pemandu Aceh Explorer di depan Masjid Rahmatullah Lampuuk, setelah bersalaman dan berkenalan, kamipun melanjutkan perjalanan ke Pantai Langee dengan sepeda motor. Jalan mulai menanjak ke atas, sesekali tanah lembur, kemudian bebatuan, gaspooooooooooooooooooool sampai mesin panas. Akhirnya berhenti dan memarkirkan sepeda motor kami di dekat salah satu perkebunan warga.

Jalan bebatuan, bisa hancur motornya apalagi matic
Trekking dilakukan selama dua jam, menyusuri jalanan tanah, kemudian batu, tanah, batu, tanah, batu lagi, tanah lagi, sesekali sungai kecil, kecil sekali, kira-kira umurnya 7 bulan, jadi masih bisa di lewati, ga mesti berenang. Buat kalian yang mau pergi kesana, usahakan pakai pakaian yang menutupi seluruh tubuh, celanan panjang, baju lengan panjang, karena banyak nyamuk di hutan, cape ladenin nyamuk, mending ladenin kamu. Hahahaha.

Peter pakai T-shirt dan celana pendek, dia bilang "I must keep moving, they bite me". Jadinya dia gerak terus, supaya nyamuk ga gigit.

Banyak pohon-pohon besar yang kami temui selama perjalanan, ada juga pohon yang terlihat menyeramkan. Alhamdulillah ga terjadi apa-apa. Selama perjalanan kami hanya mendengarkan suara hewan, seperti suara belalang hutan, ada juga suara lolongan anjing yang menjaga kebun milik warga. Kami juga beristirahat sejenak dengan makan dan minum dari bekal yang kami bawa.
Istirahat setelah satu jam perjalanan
Berfoto di pohon besar
Seram pohonnya
Pohon besar
Akhirnya,setelah trekking dua jam, kamipun sampai di Pantai Langee. Wah, it's amazing, pasir putih dengan deburan ombak laut biru.... It's perfect, apalagi tidak ada orang satupun selain kami.
Langee Beach

Sembari menikmati keindahan laut dan pantai, kami makan siang bersama, sambil ngobrol dan bercanda. Setelah makan-makannya selesai, kami berjalan menyusuri pantai, ternyata tepat di sebelah kiri kami (jika kami menghadap ke pantai) ada sebuah benteng peninggalan penjajah Belanda yang sudah menyatu dengan bukit, benteng ini dulunya digunakan untuk memantau perairan laut jika ada musuh atau kapal lain yang datang, mereka langsung bombardir musuh mereka.
Tempat yang asik untuk makan, berlindung dari teriknya matahari
Benteng peninggalan Belanda
Yang lagi ber pose di atas benteng ^_^
Setelah melihat-lihat dan tentunya berfoto ria, kami melanjutkan perjalanan kami ke satu tempat yang tak kalah menarik. Yaitu Ie Rah, adalah karang batu yang menyemburkan air dari bawah ke atas. Hal ini terjadi karena tekanan ombak yang menghatam bebatuan, dan menyebabkan air laut menyembur ke atas, karena air laut memasuki celah-celah yang ada di dinding bebatuan dan mencari jalan keluarnya. Semakin besar dan kuat ombak yang menghatam dinging bebatuan, semakin tinggi pula air yang menyembur ke atas.

Untuk sampai kesana, tantangannya lebih berat jika dibandingkan ke Pantai Langee, kami harus melewati bebatuan, permukaan hamparan bebatuan ini begitu absurd, sehingga sulit untuk dijelaskan, seperti bentuk meteor, ukurannya besar, tinggi juga, dan permukaan bebatuan itu berwarna hitam dan tajam sekali. Dan kamipun harus climbing, iya, kami climbing. Medannya adalah bebatuan, kemudian pasir lagi, terus bebatuan lagi, climbing lagi, terus jalan lagi. Sesekali kami harus menghadapai betapa pahitnya medan batu ini, yang membuat kami seperti mau menyerah, namun dengan bantuan pemandu Aceh Explorer kami pun berhasil melewati tantangan dan rintangan badai yang menerjang, hahahaha. Pokoknya keren deh buat pemandunya, mereka arahkan batu yang dipijak dan juga batu yang dipegang, Salut buat mereka yang handal dan profesional.

Photos By Farrah
Si Peter nyeker, padahal batunya panas banget.
Pemandu kam
Medan - Banda Aceh, Ooops, Medan Bebatuan maksunya :D
Sambil jalan pelan-pelan
Medan Pasir
Tantangan dan rintangan

 Photo By Miftah
Harus hati-hati supaya ga tergelincir
Ini spot yang lumayan bikin dag dig dug
Ini juga
 

Seteleah rocks climbing dan sands walking (hehehehe), kami tiba di Ie Rah,,,,
Kak Evi pake ilmu, airnya nyembur
Foto-foto di Ie Rah

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

I Lop Piyuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu,
Dil Mera,
Har Baar yeh,
Sunne ko,
Bekaraar hai,
Kaho na pyar hai, 
Kaho na pyar hai,

Hahaha, seru, indah dan menakjubkan, 
Masya Allah..... It's sooooooooooooo beautiful, lagit biru, awan putih, pasir teh susu, sanger (warnanya), pohon-pohon, rumput hijau, trus ada bukit dan tebingnya lagi, perfect kan? Coba tempat seperti ini, mudah diakses, pasti ramai yang datang, eh kalau ramai yang datang udah ga seru lagi dong, ntar ada yang jualan, ada yang bikin lapak, ada ada aja nanti yang akan terjadi, moga-moga ga terjadi, yang penting saling menjaga, kalau ada yang melangges, langsung larang.

Di Ie Rah, kami merasakan air semburannya, wow, kuat sekali tekanannya, kami menikmati bermain air selama setengah jam, puas bermain kami beristirahat dan mengeringkan diri sambil menikmati pemandangan. Pukul tiga sore, kami mulai bergerak pulang dan ya, kami harus melewati jalan dan medan yang tadi. Tiba di tempat parkiran motor, dan melanjutkan jalan turun ke bawah, saat turun ke bawah dengan menggunakan motor, rasanya ngeri-ngeri sedap, seakan-akan bagian belakang sepeda motor saya jungkir ke depan, dua kali saya berhenti dan meminta pemandu untuk mengendarai motor saya dan saya dibonceng di belakang. Dag Dig Dug Rasanya..... Saya pikir, saya sudah celaka, tapi syukur alhamdulillah, selama perjalanan pergi dan pulang tidak ada luka gores sedikitpun. Aman dan Selamat.

Finally we arrived in downtown sekitar maghrib, Evi, Zaky, Miftah, dan Peter kembali ke penginapan, sedangkan saya, kembali ke rumah untuk membersihkan diri dan beristirahat.
Terima kasih telah membaca cerita pengalaman saya menjelajah Langee dan Ie Rah.






Oktober 16, 2015

Bisa Ngapain aja di (Pelabuhan) Kuala Langsa?

Kalau ke Langsa, jangan lupa ke Pelabuhan Kuala Langsa, Kuala Langsa, lebih akrab begitu dari pada nama Pelabuhan Kuala Langsa. Seakan-akan Kuala Langsa sudah menjadi ikon pariwisata di Kota Langsa. Saban hari, pasti ada yang ke sana. Ya... Seakan-akan Kuala Langsa ini ada pemikatnya, maka tak heran, selalu ada saja orang yang ke sana.

Ngapain ke Kuala Langsa?
Ada apa di Kuala Langsa?

Saya akan mengajak anda ke Kuala Langsa dan ngapain aja kalau sudah sampai di Kuala Langsa. Tapi, sebelum saya ajak anda ke sana, ada baiknya saya jelaskan sedikit tentang Kuala Langsa ini.

Pelabuhan Kuala Langsa atau yang lebih familiar dengan nama Kuala Langsa ini terletak di Kota Langsa, untuk menuju ke sana, hanya butuh 15-25 menit dari pusat kota jika dengan kendaraan bermotor. Kuala Langsa adalah satu-satunya pelabuhan yang terhubung dengan luar negeri, seperti Malaysia. Pelabuhan ini pernah dijadikan jalur pelayaran jalur laut antara Kota Langsa - Penang, namun pelayaran ini terhenti karena kurangnya minat penumpang untuk menggunakan jalur transportasi ini yang mungkin dikarenakan waktu tempuh yang lumayan lama kurang lebih 8 jam. Pelabuhan ini juga sering digunakan sebagai pelabuhan transit untuk kapal-kapal yang ingin mengisi bahan bakar, menyuplai bahan makanan, dan juga melaspakan muatan. Inilah sebenarnya fungsi pelabuhan ini. Namun, tak bisa dihindari. Tempat ini sebenarnya menyimpan ketertarikan tersendiri bagi para masyarakat maupun pengunjung, sehingga turut dijadikan obejek wisata. Nah itulah dia overview Pelabuhan Kuala Langsa.

Sekarang saya akan mengulas ada apa saja dan apa yang bisa dilakukan di Kuala Langsa? Berikut ulasannya.

Jalan-jalan sambil makan-makan, jalan menuju Kuala Langsa dari pusat kota adalah sekitar 8 km, selama perjalanan anda akan melihat areal tambak dan juga perumahan di sana, sesekali terdapat kafe-kafe dipinggir jalan yang menjual Mie Aceh Kepiting, jangan lupa mampir, karena rasanya enak sekali. Hampir tiba di pintu masuk Kuala Langsa, anda akan melewati hutan magrove di kiri dan kanan, di sekitar hutan itu juga terdapat kafe-kafe yang berjualan.
Pertambakan warga
Mie Aceh Kepiting, Enak Banget!!!

Kehidupan Mangrove, di hutan mangrove anda akan melihat pohon bakau yang mejuntai tinggi ke atas, habitat kera/monyet ada di sana, sesekali mereka turun untuk mencari makan atau mengharap kepada pengunjung barangkali ada yang melempar makanan kepada mereka. Oleh karena itu, sebelum menuju ke Kuala Langsa, ada baiknya anda membeli pisang atau kacang-kacangang yang nantinya anda bagikan kepada monyet-monyet di sana. Tetap berhati-hati, tidak semua monyet di sana ramah dengan manusia.
Monyet yang baru bangun tidur
Keluarga Monyet

Menikmati Pemandangan di Pelabuhan, sebelum masuk ke areal pelabuhan, anda akan menjumpai pintu masuk tempat ini, sesekali ada yang menjaga, itu berarti anda harus membayar tiket masuk. Cukup Rp. 2000 untuk satu kendaraan. Setelah melewati pintu masuk, tempat ini seperti terminal kosong, karena ada areal yang luas, tempat ini dijadikan tempat parkir truk kontainer. Untuk menikmati pemandangan di pelabuhan, anda harus belok kanan dan teruskan kendaraan anda di areal docking kapal. Jika cuaca cerah, pemandangan akan lebih indah, langit biru, angin semilir dan juga suara-suara boat yang datang pergi di sekitar pelabuhan. Tempat ini sering ramai ketika akhir pekan, para pengunjung membawa serta keluarga mereka, ada juga yang membawa teman-teman dan pasangan mereka.
Liburan bersama keluarga
Laut Kuala Langsa
Memancing, kebanyakan kaum laki-laki yang sering memancing di pelabuhan ini. Untuk mendapatkan umpannya, banyak para penduduk yang menjual umpan ikan, yaitu udang yang masih hidup, anda bisa menemui penjual udang ini di sepanjang jalan menuju Kuala Langsa.
Yang hobi mancing
Pastinya Hunting Foto, ramai bagi mereka yang suka fotografi, tempat ini juga dijadikan sebagai tempat hunting foto, apalagi kalau didukung dengan cuaca yang cerah, hasil foto juga akan tampak sangat bagus. Saya juga suka fotografi, dan tempat ini sering saya jadikan untuk hunting sunrise dan terkadang saya datang ke sini pada hari sibuk seperti hari senin, karena hanya sedikit orang yang datang, dan foto yang dipotretpun kelihatan lebih bagus.
Kuala Langsa
Masih ada satu lagi yang berlum saya sebutkan, sebenarnya ini termasuk jarang dilakukan para pengunjung yang datang ke tempat ini. Saya akan membahasnya di lain waktu, jangan negatif dulu, karena kegiatan yang satu ini sebenarnya seru kalau dilakukan bersama teman-teman anda.

 See ya fellas!

Oktober 11, 2015

Berburu Sunrise di Kuala Langsa (part 2)

Salam semuanya....

Pada tanggal 12 November yang lalu saya telah membuat tulisan yang berjudul Berburu Sunrise di Kuala Langsa (part 1), pada tulisan tersebut saya menceritakan bahwa Kuala Langsa juga cocok digunakan sebagai tempat untuk menikmati sunrise, bagi anda yang suka hunting foto, silahkan bangun pagi-pagi, supaya dapat moment yang tepat untuk memotret.

Pada tulisan ini, kali ini saya akan berbagi foto-foto saya, tentunya foto ini merupakan foto matahari terbit yang saya potret di kawasan Kuala Langsa, berikut dokumentasinya;





















Itu dia documentasi yang saya miliki, secara kebetulan waktu itu, udara memang berkabut akibat asap kiriman provinsi tetangga, hehehe.

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk menikmati tulisan saya.

September 12, 2015

Berburu Sunrise di Kuala Langsa (part 1)

Sunrise atau dalam Bahasa Indonesia adalah matahari terbit yang selalu memberikan sesuatu yang berbeda di setiap paginya. Baik itu ketika cuaca yang cerah, berawan bahkan mendung sekalipun. Bagi sebagian orang, sunrise adalah sesuatu hal yang menyenangkan. Berburu sunrise sering dilakukan bagi mereka yang suka menyaksikan keindahan semesta, tidak perlu jauh-jauh ke luar angkasa, untuk menyaksikan matahari, karena matahari bisa dilihat juga di bumi, hahahaha (LOL). Bagaimana tidak, matahari merupakan pusat tata surya di alam semesta ini. Bahkan di planet manapun di alam semesa ini, matahari masih juga bisa disaksikan.

Kebanyakan orang yang ingin sekali menyaksikan sunrise di puncak gunung. Selain tempatnya yang tinggi, juga memberikan sensasi akan letaknya yang dikarenakan dataran tinggi gunung lebih tinggi keberadaannya di atas awan, dan sering kali disebut "bagaikan negeri di atas awan". Ditambah lagi, untuk menyaksikan matahari terbit, dibutuhkan pengorbanan dan juga usaha yang lebih, seperti bangun tidur lebih pagi, supaya tidak kehilangan momen matahari terbit.

Saya yang merupakan putra(i) daerah Kota Langsa, di mana Kota Langsa tidak memiliki gunung, tidak memiliki gedung yang tinggi, tak hilang akal, bagaimana caranya untuk dapat menyaksikan matahari terbit yang sangat indah. Saya pilih Kuala Langsa sabagai tempat saya berburu sunrise.

Dengan berbekal kamera, dan juga melihat langit di ufuk timur, jika memang viewnya bagus untuk melihat sunrise, saya sering memutuskan untuk langsung pergi ke Kuala Langsa, tak butuh teman, saya pergi seorang diri mengendarai sepeda motor saya.

Berikut foto-foto sunrise yang berhasil saya abadikan, foto ini merupakan foto pada tahun-tahun yang lalu, yang masih saya simpan di folder laptop saya, dan sudah waktunya dipublikasikan;

Dokumentasi 10 Mei 2013






Dokumentasi 12 Mei 2013













Dokumentasi 28 Februari 2014












Bisa dilihat dalam sebulan, tiga kali saya bela-belain diri untuk bangun pagi dan menerobos kedinginan di sepanjang jalan Kuala Langsa, yang jaraknya 8 km lebih hanya untuk mendapatkan momen indah sunrise. Sesuatu yang indah itu, butuh pengorbanan, kalau tidak mau berkorban, ya kamu ga akan dapetin apa yang kamu inginkan.

Untuk membaca kelanjutan dati tulisan ini silahkan klik di sini.


September 11, 2015

Mudah dan Susahnya Skripsi

Hi friend..... Hi,,,,,
Pa kabar nih? Baik....
Gimana, udah BAB berapa?

Huuuuuuuuaaaaaaaaaargh (nguap)
Setiap kali jumpa ma teman, itu itu aja yg dibahas, itu itu aja yg dibahas, itu itu aja yg dibahas.... Kepo banget tau.... Kayak gk ada pmbahasan lain aja, tanyak kek, kapan married ? LOL

Anak kuliahan itu, banyak belajar, banyak tau, banyak ilmu,,, jadi saran saya nih ya,,, lama-lama aja di kampus, kalau bisa sampe semester XIV aja, hahahahahahaha. Jadi ilmunya makin banyak

Tapi bukan itu dah inti dari semuanya, malah klo lebih cepat lebih bagus. Saat awal-awal saya kuliah nih ya, semuanya terasa mudah kalau dihadapi dengan senyuman :) dan tawa :D . LOL. Tapi, kalau udah semakin lama dan lama kuliah disitu, ya pasti agak2 bosan, masak udah 4 tahun, kampusnya itu2 aja, kantinnya itu2 aja, orangnya itu2 aja, satpamnya aja yg gk itu2 aja, maklum satpamnya ada yg baru :D . Tp bkn pak satpamnya yg jad blem (red.problem) dari semua ini.



Ok laaaaaaaaaaai, kalau udah semester VIII alias final year klo kata2 org luar negeri, jadi kudu tamat kuliah langsung, tp utk tamat kuliah atau hengkang dari kampus dengan cara yang istimewa gk semudah kita melangkahkan kaki seperti layaknya orang yang berjalan, mesti kerja keras banting tulang dan peras otak. #Galau
Ada satu mata kuliah yang paling utama dalam kehidupan perkuliahan, ya emang semuanya utama dan penting2 sih, tp satu mata kuliah ini paling susah dalam pengerjaannya. Butuh proses, butuh bimbingan dan butuh perbaikan, apalagi namanya kalau bukan S K R I P S I , Jengjengjeng.....

Dalam pembuatan skripsi ada susah dan mudahnya, beruntunglah bagi orang yang super duper rajin, yang dengan mudahnya rajin ngerjain itu mata kuliah :D tapi bagi yang malas, nah susahnya minta ampun.... padahal susahnya gk seperti yang dibayangkan lho. 1 point aja, intinya kemauan.

Berikut susahnya bikin skripsi:

  1. Malas, ini adalah penyakit yang paling susah, ada yang bilang obatnya gk ada diapotek. Jadi gimana dong? Lu pikir aja sendiri
  2. Sibuk alias gk ada waktu. Emang siapa kita? pejabat? pengusaha? Sempatin2 lah waktu untuk bikin skripsi, ntar bakalan nyesal
  3. Kurangnya bahan skripsi. Ini adalah alasan yang paling banyak digunakan oleh para skirpsipers, padahal tekhnologi semakin cangging ya? Perpustakaan kampus kan ada tuh. yah walaupun gk banyak buku2nya. Usaha ya friends.
  4. Gk punya laptop, pinjem aja friend, atau gak bisa dirental, :D
  5. Gk punya modal utk ngeprint. OK, kamu blg kamu gk punya modal, solusinya ajalah bekerja untuk mghasilkan uang, terserah kamu, yang penting halal ya friends.


Itulah beberapa kesusahan yang dialami oleh skripsipers jaman sekarang.

Sekarang kita bahas mudahnya bikin skripsipers ya friends. Tinggal kebalikan dari point2 susahnya bikin skripsi aja ya,,,
1. Rajin, kalau dah rajin, semua mau dikerjain, biasanya yg rajin bikin skripsi itu ya orang2 yang ada planning married, hahahaha, atau ada keperluan lainnya, contohnya gini, harus wisuda dulu baru boleh kemana-mana (#curhat saya), harus wisuda dulu biar naik pangkatnya (calon PNS), harus wisuda dulu baru boleh kerja (alasan biar ditambah gaji honorer).

Friends,, kapan2 kita sambung lagi ya, berhubung batere notebook saya mau lenyap nih ,,, saya udahan dulu, kpn2 kita sambung lagi ya friends??? Cakep.

Tulisan ini merupakan tulisan dari salah satu blog saya yang lain, dan saya muat kembali di blog ini.
Terima kasih telah membaca!